Masa Prasejarah di Bali (Artikel Lengkap)

Sekarang, kami akan memberikan ringkasan tentang kehidupan masyarakat Bali pada zaman prasejarah secara kronologis. Zaman prasejarah Bali dimulai sejak Pulau Bali didiami oleh manusia Indonesia yang tertua, yang belum mengenal tulisan. Pada zaman ini telah ditemukan kembali berbagai macam perkakas dan benda-benda yang berkaitan dengan keperluan keagamaan. Kenyataan ini telah membuktikan bahwa masyarakat prasejarah Bali telah berhasil mencapai suatu tingkat kehidupan yang maju, yang kemudian menjadi dasar bagi perkembangan kehidupan masyarakat Bali setelah datangnya pengaruh Agama Hindu.

1. Masa Berburu dan Mengumpul Makanan Tingkat Sederhana di Bali

Alat-alat bantu dari masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana yaitu kapak perimbas, kapak genggam, pahat genggam, serut, dan sebagainya. Semua alat itu masih kasar dalam pembuatannya. Umumnya ditemukan di desa Sembiran, Singaraja, dan di tepi sebelah timur dan tenggara Danau Batur (Trunyan).

Pada masa berburu dan mengumpul makanan tingkat sederhana, penduduk hidup mengembara dan seluruh hidupnya tergantung kepada alam sekitarnya. Segalanya bertujuan untuk mendapatkan makanan setiap hari. Mereka telah memilih tempat-tempat yang mempunyai sumber-sumber makanan dan air yang cukup untuk kelangsungan hidupnya. Seperti daerah padang rumput yang subur, dengan semak belukar, dan hutan-hutan kecil yang di sekitarnya terdapat sumber air.

Binatang yang biasanya diburu adalah banteng, rusa, dan lain-lain. Selain untuk berburu, alat-alat bantu pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana juga dapat digunakan untuk mencungkil atau mengumpulkan hasil-hasil alam yang dapat dimakan seperti umbi-umbian. Mereka juga melakukan usaha untuk meramu bahan-bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang dapat dimakan seperti daun-daunan.

Sebagai pengembara, mereka akan berpindah-pindah (nomaden) dari tempat yang satu ke tempat lainnya jika di tempat sebelumnya sudah tidak ada lagi persediaan bahan-bahan makanan yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Mereka juga harus berjuang menghadapi alam yang ganas misalnya letusan gunung berapi, banjir besar, dan binatang-binatang buas yang banyak berkeliaran di hutan Bali pada saat itu.

Jumlah penduduk pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana tidak begitu banyak. Hal ini disebabkan oleh keganasan alam, penyakit, dan mereka sendiri yang sengaja mengurangi jumlah anggotanya supaya mempermudah gerakan kelompoknya. Anak-anak perempuan biasanya akan dibinasakan dan dibunuh karena dianggap tidak produktif.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki yang mempunyai tenaga kuat bertugas untuk melakukan perburuan di hutan. Perempuan biasanya hanya bertugas untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan ringan seperti membimbing anak dan meramu makanan. Perempuan juga bertugas untuk memelihara api yang telah ditemukan karena api amat penting di dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Untuk cara berkomunikasi di masa berburu dan mengumpul makanan tingkat sederhana belum diketahui. Kemungkinan mereka telah mengenal suatu bahasa sebagai alat bertutur di antara anggota kelompoknya atau dengan kelompok lainnya. Bukti-bukti tentang hal ini belum ditemukan sampai sekarang.

2. Masa Berburu dan Mengumpul Makanan Tingkat Lanjut di Bali

Bekas-bekas kehidupan dari masa berburu dan mengumpul makanan tingkat lanjut ditemukan di daerah perbukitan kapur di Pecatu (Badung), yaitu di Gua Selonding. Di Gua Selonding ditemukan beberapa buah alat-alat dari tulang dan kulit-kulit kerang sisa makanan. Alat-alat yang ditemukan yakni tiga buah alat tusuk (lancipan Muduk), sudip tulang, alat tusuk dari tanduk rusa, pecahan-pecahan kulit kerang dan siput laut, dan gigi-gigi binatang seperti gigi babi dan rusa yang diduga merupakan sisa-sisa makanan penduduk. pada umumnya alat-alat dari Gua Selonding berukuran kecil.

Kehidupan pada masa ini hampir tidak berbeda dengan kehidupan pada masa sebelumnya. Penduduk masih hidup berburu dan mengumpulkan makanan dan semuanya tergantung pada alam sekitarnya. Mereka masih juga meneruskan cara-cara meramu hasil-hasil hutan yang dapat dimakan. Di samping itu mereka juga menangkap ikan, mencari kerang, dan siput di laut maupun sungai.

Pada masa ini telah tampak ada tanda-tanda dimulainya usaha untuk bertempat tinggal di dalam gua-gua alam atau gua-gua payung seperi di Gua Selonding walaupun masih nomaden. Gua-gua alam yang dipilihnya itu sudah tentu mempunyai sumber bahan-bahan makanan yang cukup baik, misalnya tidak jauh dari sungai atau laut. Tempat ini akan segera ditinggalkan dan mereka akan berpindah ke tempat baru, jika makanan yang tersedia tidak lagi mencukupi kebutuhan kelompoknya.

Jumlah penduduk pada masa berburu dan mengumpul makanan tingkat lanjut hampir tidak mengalami perubahan jika dibandingkan dengan masa sebelumnya. Di dalam gua-gua yang kecil, kemungkinan hanya didiami oleh dua atau tiga keluarga kecil. Mereka berburu binatang-binatang kecil yang dibuktikan dengan alat-alat yang ditemukan pada umumnya berukuran kecil seperti ujung panah atau ujung tombak yang tajam. Pekerjaan berburu dilakukan secara teratur dan bersama satu kelompok kemudian hasilnya dibagi rata atau dimakan bersama-sama.

Bercocok tanam atau bertani, mungkin sekali telah dilakukan pada masa ini dengan cara yang sangat sederhana dan berpindah-pindah sesuai tingkat kesuburan tanah. Daerah hutan yang akan dijadikan areal pertanian, terlebih dahulu dibersihkan dengan cara dibakar. Pada waktu itu mungkin mereka menanam umbi-umbian dengan cara mensteknya. Mereka belum mengenal cara menanam biji-bijian. Mungkin juga mereka telah menanam sejenis padi liar dan dipanen dengan menggunakan pisau-pisau batu yang tajam. Bila musim panen telah berakhir, mereka akan berpindah ke tempat yang lain dan akan melakukan hal yang sama. Di daerah Asia Tenggara telah ditemukan adanya bukti-bukti mengenai cara pertanian yang berpindah-pindah.

Pada masa ini sangat mungkin telah dibuat alat-alat dari bambu, karena bambu dapat diperoleh dengan cara yang mudah dan mengolahnya pum sangat mudah. Bambu dapat dijadikan sudip atau lancipan sederhana untuk mencungkil dan membersihkan umbi-umbian. Bambu juga dijadikan barang-barang anyaman yang dapat digunakan dan juga dipakai untuk membuat api. Bukti-buktinya memang belum ditemukan di Indonesia. Namun, di daerah Thailand telah ditemukan sisa-sisa bambu yang terbakar dalam lapisan-lapisan gua yang pernah dijadikan tempat tinggal pada masa itu.

Kemungkinan pula mereka telah mampu untuk menjinakkan binatang tetapi hal ini belum terbukti di Bali. Binatang-binatang yang dijinakkan itu dapat membantu dalam memburu atau menjaga tempat tinggal.

3. Masa Bercocok Tanam di Bali

Masa bercocok tanam merupakan suatu revolusi yang pertama dalam kehidupan manusia. Teknologi pembuatan alat-alat untuk keperluan hidup dibuat dengan baik sekali dan digosok sampai halus dan mengkilat. Mereka juga telah meninggalkan cara hidup mengembara dan membuat desa-desa kecil. Untuk tempat tinggal, mereka mendirikan rumah-rumah panggung yang dikerjakan secara gotong royong untuk menyelamatkan diri dari bahaya banjir atau gangguan dari binatang buas.

Peninggalan-peninggalan yang berupa alat-alat batu dari masa bercocok tanam ini ditemukan tersebar hampir di seluruh Bali. Seperti di Palasari, Kediri, Bantiran, Pulukan, Kerambitan, Payangan, Ubud, Pejeng, Selulung, Kesiman, Selat, Nusa Penida dan di beberapa desa di Bali Utara. Alat-alat yang telah dikumpulkan selama ini di Bali menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah Pulau Bali telah ditempati. Sekarang, sejumlah alat-alat tersebut telah dikumpulkan di Museum Bali, Denpasar dan Museum Gedung Arca, Bedulu, Gianyar. Alat-alat tersebut belum dapat memberikan banyak gambaran mengenai kehidupan yang sebenarnya telah terjadi.

Tingkat penguasaan teknologi pembuatan alat-alat batu semakin maju dan usaha bertempat tinggal secara tetap sudah mulai dilakukan. Mereka mulai bercocok tanam secara sederhana dan mengembang biakkan binatang-binatang tertentu. Mereka memilih tempat-tempat yang subur. Binatang-binatang seperti anjing dan babi mulai dipelihara dan dikembangbiakkan. Kecuali untuk dimakan, babi dipelihara untuk keperluan upacara-upacara tertentu.

Kemajuan baru telah menimbulkan perubahan dalam usaha atau cara untuk memenuhi keperluan pokoknya akan makanan sehari-hari. Perubahan ini mengakibatkan adanya pembaruan di dalam tata kehidupan masyarakat. Kehidupan menetap telah memberikan kemungkinan bertambahnya jumlah anggota keluarga atau anggota kelompok. Anak-anak mulai dianggap sebagai tenaga pembantu yang produktif. Kaum wanita mulai lebih banyak mengambil bagian dalam berbagai kegiatan. Pertumbuhan masyarakat menjadi lebih teratur dalam ikatan-ikatan keluarga dan kehidupan gotong royong dianggap sebagai kewajiban bersama yang mengikat bagi semua orang. Mereka memanfaatkan waktu menunggu akan datangnya musim panen dengan baik seperti dengan membuat gerabah dan barang-barang kerajinan anyam-anyaman.

Pada masa ini diduga mereka telah melakukan pelayaran melalui laut dengan menggunakan perahu bercadik atau rakit-rakit yang sederhana. Dengan alat transportasi laut tersebut, mereka telah melakukan perdagangan dalam bentuk tukar menukar barang yang diperlukannya (barter). Perdagangan ini yang mendorong penyebaran kebudayaan dan memajukan kebudayaan dikalangan penduduk.

Dalam masa kemajuan yang telah berhasil dicapai, mereka memerlukan adanya bahasa sebagai alat perhubungan. Para ahli telah memperkirakan bahwa bahasa yang dipakai di kepulauan Indonesia pada masa prasejarah adalah Bahasa Melayu-Polinesia atau Bahasa Austronesia. Bahasa ini telah mempermudah penyebaran kebudayaan dan mempermudah perdagangan.

Masyarakat pada masa bercocok tanam menuntut adanya seorang tokoh pemimpin desa untuk menjaga segala ketertiban hidup. Jabatan pemimpin desa ini biasanya dipegang oleh seorang tua yang mempunyai kewibawaan, kejujuran, dan disegani atau dihormati masyarakat. Pada masa ini mulai berkembang tradisi penghormatan kepada orang tua yang menjadi pemimpin dan tradisi ini berkembang lebih pesat pada masa selanjutnya. Hal ini dapat dilihat pada bangunan-bangunan megalit sebagai media penghormatan.

Pada masa ini berkembang pula kepercayaan bahwa kehidupan setelah meninggal dunia akan berpengaruh terhadap kehidupan saat ini (animisme). Berdasarkan kepercayaan ini, maka kepada orang yang meninggal dunia diberikan suatu perawatan yang baik disertai suatu upacara penguburan dan diberi pula bekal kubur. Pemberian bekal kubur, merupakan pernyataan dari kepercayaan tadi, bahwa di alam baka kehidupan orang yang telah meninggal itu akan berlangsung terus. Pada masa perundagian, kepercayaan ini berkembang lebih pesat lagi.

Bertambahnya jumlah penduduk yang disertai kemajuan teknologi di desa-desa, memerlukan persediaan bahan makanan yang lebih banyak. Untuk menjamin persediaan bahan makanan, maka diperlukan tanah pertanian yang lebih luas dan penggarapan tanah dengan cara-cara yang lebih intensif. Untuk keperluan di atas telah dilakukan perabasan hutan.

4. Masa Perundagian di Bali

Kehidupan masyarakat pada masa perundagian masih berdasar dari masa bercocok tanam, yang telah memberikan perkembangan yang lebih maju. Pada masa perundagian, perkembangan teknologi mencapai kemajuan yang lebih pesat dengan ditemukan bijih-bijih logam dan teknik melebur logam yang dibentuk menjadi bermacam-macam benda yang diinginkan. Teknik pengolahan logam yang maju, telah menghasilkan sejumlah benda-benda dari perunggu dan sebagian telah berhasil ditemukan kembali di Bali.

Salah satu peninggalan yang ditemukan di Bali adalah nekara. Dahulu nekara ada yang dipergunakan sebagai genderang perang atau sebagai benda upacara yang dapat mendatangkan hujan untuk pertanian. Nekara ditemukan di desa Pejeng (Gianyar), Peguyangan (Badung), dan Bebitra (Gianyar). Mengenai pembuatan nekara perunggu ini diduga, bahwa nekara ini dibuat di daerah Bali. Karena di desa Manuaba (Gianyar) telah ditemukan 5 buah cetakan batu untuk membuat nekara. Cetakan batu tersebut kini masih disimpan di dalam sebuah pura di desa Manuaba.

Selain nekara, di daerah Bali juga ditemukan benda-benda perunggu. Seperti tajak, gelang kaki dan tangan, cincin, anting-anting, ikat pinggang, pelindung jari tangan, dan sebagainya. Sebagian dari benda-benda ini telah ditemukan di dalam peti mayat (sarkofagus) yang tersebar hampir di seluruh Bali. Temuan yang penting juga dari masa ini adalah tutup mata dari emas yang berbentuk kerucut ditemukan di Gilimanuk (Jembrana).

Berdasarkan hasil-hasil penelitian para sarjana terhadap temuan-temuan tersebut di atas dapat diketahui bahwa masyarakat Bali telah mengenal teknologi pembuatan benda-benda dari perunggu. Mereka telah berhasil pula mengolah benda-benda dari emas. Di antara benda-benda tersebut, ada yang dimaksudkan sebagai bekal kubur. Karena sesuai dengan kepercayaan animisme yang dipercaya sejak masa bercocok tanam.

Kehidupan manusia pada masa perundagian sudah mencapat puncak perkembangannya, termasuk penguasaan teknologi. Kemajuan teknologi ini telah melahirkan para undagi yang terampil dan kreatif. Misalnya dalam pembuatan benda-benda dari perunggu dan gerabah dari tanah liat. Kehidupan dalam masyarakat desa yang baik dan teratur, memberikan kemungkinan bertambahnya penduduk dengan cepat. Peranan pemimpin masyarakat semakin menonjol. Disamping peranan kaum ulama yang bertugas untuk menyelesaikan upacara-upacara keagamaan. Sebagan dari penduduk hidup berladang atau bercocok tanam dan mereka yang berdiam di pesisir pantai hidup menangkap ikan, mencari kerang, dan siput laut.

Mereka telah menghasilkan karya-karya seni yang juga mempunyai nilai-nilai keagamaan seperti hiasan-hiasan yang terdapat pada Bulan Pejeng, pada beberapa sarkofagus, dan hiasan-hiasan pada gerabah-gerabah yang ditemukan di Gilimanuk. Seni pahat telah berkembang dengan baik, terbukti dari hiasan-hiasan kedok muka pada tonjolan-tonjolan sarkofagus tertentu dan arca sederhana yang ditemukan di Poh Asem, Gelgel, dan Depaa. Mungkin sekali bahwa seni pahat pada masa perundagian ini kemudian menjadi dasar bagi perkembangan seni pahat di Bali setelah Agama Hindu sampai di Bali.

5. Tradisi Prasejarah di Bali Masa Kini

Kehidupan masyarakat prasejaranh di daerah Bali telah memberikan dasar-dasar yang kuat sekali bagi perkembangan selanjutnya terutama setelah Agama Hindu sampai di Bali. Masa perundagian adalah puncak segala kemajian yang berhasil dicapai.

Dasar-dasar kehidupan masyarakat tadi akhirnya mengantarkan masyarakat Bali memasuki masa sejarahnya kira-kira pada abad ke 8 M. Dengan ditemukannya stupika-stupika dan materai-materai tanah liat dari desa Pejeng (Gianyar) yang memuat mantra-mantra singkat Agama Budha. Hal ini menunjukkan, bahwa Agama Budha telah tiba di sini sebelum datangnya Agama Hindu. Pulau Bali mendapat pengaruh Agama Budha dan Hindu selama beberapa abad dan kemudian disusul dengan pengaruh-pengaruh kebudayaan lainnya dari Barat.

Walaupun secara resmi Bali telah memasuki masa sejarah sekitar abad ke 8 M, tradisi prasejarah masih dilakukan hingga saat ini. Seperti pemujaan roh nenek moyang dan teknik-teknik membuat alat-alat dari logam maupun dari tanah liat.

Sumber:

1. Sutaba, I Made. 1980. Prasejarah Bali. Gianyar: B.U. Yayasan Purbakala Bali


Semoga bermanfaat, Tetap Semangat! | Materi Pelajaran

14 comments: